Sejarah Shisha « Info Pilihan

 Info Terbaru   Peraturan Dirjen Bea dan Cukai Nomor PER-21/BC/2011 Tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Registrasi Kepabeanan • Peraturan Menteri Keuangan No. 145 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Kepabeanan Dibidang Ekspor • Peraturan Menteri Perdagangan No. 27/M-DAG/PER/5/2012 Tahun 2012 Tentang Angka Pengenal Importir (API) • Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 63/M-DAG/PER/3/2012 Tentang Ketentuan Umum Di Bidang Ekspor • Undang-undang No. 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas Undang-undang No. 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan • Undang-undang No. 10 Tahun 1995 Tentag Kepabeanan • Undang-undang No. 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan • Nomor Identitas Kepabeanan (NIK) • Payung Hukum Perdagangan E-Commerce • Jadwal piala dunia 2014 Brazil • Persik vs Persija !! • Persik vs Persija ! • Nais Info | Seputar Bisnis - Internet - Teknologi • Perusahaan Properti Terbaik Indonesia 2014 • Buku Cipto Junaedy Strategi Membeli Properti • Harga Samsung Galaxy S5 G900i – Review Spesifikasi • Model blus batik modern • Baju batik pria 2014 • Model batik wanita pria • Motif batik pekalongan solo • 
Sejarah Shisha
Image of Sejarah Shisha
Kata shisha berasal dari bahasa Persia, shishe, yang berarti gelas. Shishe merujuk pada tabung gelas alat merokok ala Timur Tengah. Tradisi shisha berawal dari India utara di kawasan Persia, Iran, tepatnya di kawasan perbatasan antara India dan Pakistan, di Negara Bagian Gujarat, Rajasthan, dan Sindh.
Saat Raja Akbar memimpin Kekaisaran Mughal, India (1542-1605), pakar fisika Abdul Fatah Jaelani, keturunan Abdul Qadir Jaelani, datang ke India dan menciptakan shisha.

Shisha disajikan seusai bersantap baklava atau kue-kue basah dan minum teh beraroma daun mint di sore hari.
Dari India, shisha menyebar ke Iran, Turki, Irak, dan Mesir. Selanjutnya meluas ke Asia Tengah dan sebagian Afrika Utara dan sejak dua tahun belakangan shisha meluas ke hampir seluruh belahan dunia.

Turki dan Mesir
Tahun 1554, Hakim dari Alepo dan Hems dari Damaskus membuka bar shisha pertama di Kerajaan Ottoman. Shisha pun cepat berkembang di banyak kedai kopi di Turki. Di masa pemerintahan Murat IV (1623-1640), shisha mencapai puncak keemasannya dan digunakan oleh mayoritas rakyat Turki.
Di abad ke-17, shisha mulai tampil seksi bersama sajian musik, hidangan mewah, dan tari perut. Di era pemerintahan Raja Salim III, di abad 19, shisha menjadi produk industri kerajinan, yaitu setelah dibukanya pabrik gelas di Beykoz oleh Mehmet Dede.
Di Mesir, di awal abad ke-20, shisha berkembang menjadi bagian dari budaya kosmopolit. Kafe shisha terpopuler di awal abad itu adalah Kafe Jamaluddin al-Afghani dan Kafe El-Fishawi.
Pelanggan mereka adalah Abdullah al-Nadim, sang orator revolusi Mesir 1919, Saad Zaghlul, perdana menteri pertama Mesir, serta sastrawan Mesir peraih Nobel 1988, Naguib Mahfouz.
Di akhir tahun 1980, seorang pedagang tembakau di Mesir mencampur tembakau shisha dengan sari buah. Langkah ini ternyata membuat shisha mendadak mendunia.
Kini, pengguna shisha bisa menikmati tiga jenis tembakau. Tembakau dengan campuran madu atau sirup yang disebut maasal (Arab), tembakau murni yang disebut tumbak atau ajami (Turki), serta tembakau yang dicampur ramuan tumbuhan dan minyak yang disebut jurak (India).
Baca Selengkapnya . . . .

  • Views 2126